PERLINDUNGAN ANJING DATARAN TINGGI PAPUA (Canis hallstromi, Troughton 1957)

Anjing Dataran Tinggi Papua merupakan hewan asli Papua yang perlu dilindungi.

Sumber foto: Uncen

Kehidupan masyarakat tradisional sangat melekat dengan alam sekitar baik pada tumbuhan maupun hewan. Hubungan manusia dengan lingkungannya dikaji dalam studi etnoekologi sebagai ilmu yang mempelajari aktivitas masyarakat tradisional dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Manusia pada kondisi tersebut mempunyai peran yang penting untuk memanfaatkan hewan namun tetap bertanggung jawab untuk melestarikannya.

Salah satu hewan yang dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan manusia adalah anjing dataran tinggi. menurut masyarakat, anjing dataran tinggi bukan hanya anjing biasa, namun juga merupakan bagian dari potensi kekayaan alam atau keanekaragaman hayati Papua. Berdasarkan sejarah perkembangan masyarakat yang mendiami dataran tinggi Papua, anjing dataran tinggitelah berdistribusi sejak zaman dahulu.

Anjing dataran tinggi merupakan hewan yang memiliki kekerabatan dengan Canis di daerah Australia-Asia Tenggara. Jenis tersebut merupakan jenis-jenis anjing Asia yang mulai terdistribusi sekitar 3.000 hingga 4.000 tahun yang lalu. Anjing dataran tinggi adalah Canis berukuran sedang, memiliki sifat pemburu, menyerang, membunuh, dan memakan mangsa dengan ukuran yang cukup bervariasi mulai dari ukuran kecil (tikus, burung, kuskus dan trenggiling) hingga jauh lebih besar dari dirinya sendiri serta diketahui tidak dapat menggonggong.

 

Sumber foto: Craig Manners

Berdasarkan wawancara dari beberapa suku yang memahami tentang anjing dataran tinggi tersebut, mereka mengatakan bahwa keberadaan anjing dataran tinggi selama lima tahun terakhir jarang dijumpai. Hal tersebutlah yang mendasari pentingnya upaya konservasi terhadap anjing dataran tinggi.

Penetapan konservasi dimulai dengan tiga prinsip konservasi perlindungan keanekaragaman hayati, yaitu pelestarian, pengawetan dan pemanfaatan. Pemanfaatan berkelanjutan terkait anjing dataran tinggi meliputi ekosistem, spesies dan genetik. Ketiga komponen tersebut merupakan hal yang penting yang tidak dapat terpisahkan.

Di Indonesia, terdapat beberapa kebijakan yang mengatur penetapan status konservasi suatu spesies. Berikut adalah beberapa kebijakan antara lain:

  1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor P.106/Menlhk/Setjen/ JUM.1/12/2018 tentang perubahan kedua atas peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan nomor P.20/Menlhk/Setjen/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
 

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, mengatur tatacara penetapan status konservasi sebagai dilindungi. Selanjutnya tercantum di pasal-pasal 5 dan 6 disebutkan bahwa ketika ingin menyatakan suatu spesies perlu untuk dilindungi, maka dibutuhkan data yang valid. 

Terdapat tiga kriteria yang diperlukan yakni: (1) populasi anjing dataran tinggi kecil, (2) penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam, (3) daerah penyebarannya sangat terbatas. Ketiga kriteria menjadi dasar dalam menetapkan status spesies tersebut menjadi status dilindungi dan perlu diawetkan.

Pasal 6 juga menyatakan bahwa jenis tumbuhan dan satwa yang memang perlu dilindungi salah satunya dengan mengacu pada kategori yang ada di dunia internasional atau yang biasanya disebut kategori International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Selanjutnya, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P106/Menlhk /Setjen/KUM.1/12/2018, menjelaskan bahwa menteri menerima usulan dari instansi pemerintah lain atau lembaga swadaya masyarakat untuk melindungi suatu jenis tumbuhan atau satwa, dengan syarat adanya informasi ilmiah agar dapat menetapkan suatu jenis untuk dilindungi. Sedangkan dalam usulan melindungi jenis tumbuhan dan satwa, LIPI sebagai otoritas dari keilmiahan pemerintah Indonesia dapat langsung menetapkan perlindungan jenis tumbuhan dan satwa.

 

Sumber foto: David Clode

Secara garis besar, perlu adanya keprihatinan terpadu dari instansi terkait untuk menyelamatkan anjing dataran tinggi dengan cara sebagai berikut:

  1. Secara nasional memasukkan anjing dataran tinggi di bawah undang-undang negara.
  2. Secara nasional memasukkan anjing dataran tinggi sebagai mamalia asli yang dipantau oleh Taman Nasional Lorentz.
  3. Menetapkan kawasan konservasi anjing dataran tinggi yang didanai pemerintah dan program pemuliaan di dalam Taman Nasional.
  4. Promosi dan memberikan pendidikan tentang anjing dataran tinggi.
  5. Mengadvokasi perlindungan anjing dataran tinggi sebagai spesies yang rentan / terancam punah
  6. Melobi Pemerintah untuk melarang berburu anjing dataran tinggi.
  7. Pembentukan dan promosi kawasan suaka anjing dataran tinggi (perlindungan hukum, papan tanda, pendidikan tentang biodiversitas).

Latest News

STRATEGI EFEKTIF DALAM PELESTARIAN HUTAN Hutan adalah sumber kehidupan bagi kita …

PENTINGNYA KONSERVASI HUTAN UNTUK MELINDUNGI WARISAN ALAM KITA Hutan merupakan salah …

APA ITU EKOWISATA HUTAN? Ekowisata hutan adalah bentuk pariwisata yang berfokus …

Subscribe for Update

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *